TASAWUF:
Definisi, Hierarki dan Tujuan
1. Definisi Tasawuf
Akhlak tasawuf merupakan salah satu khazanah intelektual Muslim yang kehadirannya hingga saat ini semakin dirasakan. Secara historis dan teologis Akhlak Tasawuf tampil mengawal dan memandu perjalanan hidup umat agar selamat dunia dan akhirat. Tidaklah berlebihan jika misi utama kerasulan Muhammad SAW adalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia, dan sejarah mencatat bahwa faktor pendukung keberhasilan dakwah beliau itu antara lain karena dukungan akhlaknya yang prima, hingga hal ini dinyatakan oleh Allah di dalam Al-quran.
Karya-karya modern dalam bidang tasawuf telah mendiskusikan asal usul kata tasawuf, meskipun karya-karya klasik harus lebih diutamakan untuk dimanfaatkan sebagai upaya memahaminya secara baik berdasarkan data otentik. Dalam kitab Kasyfal-Mahjub, al-Hujwiri telah menjelaskan asal-usul kata tasawuf. Pertama, istilah tasawuf berasal dari kata al-shuf yaitu wol. Disebut sufi karena sufi mengenakan jubah yang terbuat dari bulu domba. Kedua, istilah tasawuf berasal dari kata al-shaf, yaitu barisan pertama yang bermakna bahwa kaum sufi berada pada barisn pertama di depan Tuhan, karena besarnya keinginan mereka terhadap Tuhan, kecenderungan hati mereka terhadap-Nya dan tinggalnya bagian-bagian rahasia dalam diri mereka di hadapan-Nya. Ketiga, istilah tasawuf berasal dari kata ahl-alsuffahkarena para sufi mengaku sebagai golongan ahl al-shuffah yang diridai Allah. Mereke disebut sufi karena sifat-sifat mereka menyamai sifat orang-orang yang tinggal di serambi masjid(shuffah) yang hidup pada masa Nabi Muhammad Saw. Keempat, istilah tasawuf berasal dari kata al-shafayang artinya kesuacian, sebagai makna bahwa para sufi telah menyucikan akhlak mereka dari noda-noda bawaan, dan karena kemurnian hati dan kebersihan tindakan mereka. Kaum sufi menjaga moral dan menyucikan diri mereka dari kejahatan dan keinginan duniawi, sebab itulah mereka disebut sufi.Menurut ‘Abd al-Qadir al-jailani yang cukup dikenal sebagai pendiri tarekat Qadiriyah meyatakan bahwa seseorang dikatakan sebagai sufi karena tiga alasan :1. Terjadinya proses penjernihan terhadap hati mereka berkat cahaya makrifat.2. Ia dinisbahkan kepada ashhab al-shuffah, yakni para sahabat yang meninggalkan segala sesuatu karena cinta kepada Allah dan rasul-Nya.3. Ia memakai shuf(pakaian dari bulu), di mana untuk sufi tingkat pemula mengenakan pakaian daru bulu biri-biri, sedangkan untuk sufi tingkat pertengahan dari bulu kambing, sedangkan sufi untuk tingkat puncak dari bulumir’izza(bulu halus kambing).Al-jailani menambahkan bahwa kata thasawwuf terdiri atas empat huruf, yakni ta’, shad, waw, dan fa’. Kata ta’ bermakna taubah, kata shad bermakna shafa’ katawaw bermaknawilayah(kewalian), dan kata fa’bermakna fana’ fi Allah.Berdasarkan pendapat sejumlah sufi di atas, dapat dipahami bahwa tasawuf merupakan disiplin ilmu yang berkaitan dengan penyucian jiwa manusia dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Swt.
2. Tasawuf dalam Hierarki ilmu-ilmu Islam
Tasawuf dikategorikan sebagaimetafisika islam yangmerupakan bagian dari ilmu-imu agama. Dapat ditegaskan bahwa para ulama menempatkan tasawuf sebagai bagian dari ilmu-ilmu agama, meskipun sebagian ahli menyebutkan bahwa tasawuf dalam bentuk tasawuf falsafi dipengaruhi oleh agama atau aliran filsafat tertentu. Ibn Khalfun telah mengulas tasawuf sebagai sebuah disiplin ilmu dalam kitab muqqadimahnya. Dari aspek sumber, tasawuf sebagai salah satu dari ilmu syariah, menurut ibn Khaldun, bersumber dari syariat yakni Al-Qur’an dan hadis, dan akal tidak memiliki peran dalam ilmu-ilmu syariah kecuali menarik kesimpulan dari kaidah-kaidah utama untuk cabang-cabang permasalahannya. Meskipun muncul belakangan sebagai sebuah disiplin ilmu, tasawuf sebagai bagian dari ilmu-ilmu syariat telah dipraktekan pada zaman Nabi Myhammad Saw. Dalam aspek pembahasan, tasawuf membicarakan empat pokok persoalan. Pertama, pembahasan tentang mujahadah, zauq, intospeksi diri, dan tingkatan-tingkatan spiritual. MenurutIbn Khaldun, kebanyakan kaum fuhaka menolak ajaran kaum sufi tentang tasawuf.Penolakan fuhaka (sunni) tidak serta merta ditunjukan kepada semua jenis tasawuf. Menurut al-Taftajani, dari abad ketiga sampai abad keempat hijriah, aliran tasawuf terbagi menjadi dua. Pertama, tasawuf sunni, yaitu aliran yang memagari pengikutnya dengan Al-Qur’an dan hadis, serta mengaitkan ajaran mereka, terutama keadaan dan tingkatan rohani mereka, dengan kedua sumber ajaran islam tersebut. Diantara sufi yang termasuk dalam kelompok ini adalah Abu Hamid al-Ghazali. Kedua, tasawuf falsafi, yaitu aliran yang cenderung kepada ungkapan-ungkapan ganjil, memadukan antara visi mistis dan visi rasional dan banyak menggunakan terminology filosofis, bahkan dipengaruhi banyak aliran filsafat.
3. Tujuan Tasawuf
Alquran menegaskan bahwa manusia diciptakan dala suatu tujuan tertentu seperti syahadah, ibadah, khalifah, dan hasanah. Para sufi telah merumuskan tujuan dari tasawuf. Sekedar dari pemetaan, Ibn Khaldun menjelaskan bahwa puncak perjalanan spiritual para penempuh jalan tasawuf setelah melewati beragam tingkatan spiritual (al-maqamat) adalah kemantapan tauhid dan makrifat. Sebagaimana telah pernah diungkap, pernyataan kaum sufi menegaskan bahwa tasawuf menghendaki pelajar sufi mampu mendekatkan diri kepada Allah, dan memiliki akhlak mulia.
Pendapat kaum sufi tentang makna ketauhidan sebagai tujuan utama dari mazhab tasawuf dapat dilihat dari pendapat mereka dari tingkatan (al-maqam) tertinggi yang mungkin dicapai oleh seorang sufi. Mereka melahirkan sejumlah teori mengenai al-maqam tertinggi tersebut sebagai dampak dari perbedaan mazhab di antara mereka. Paling tidak, tasawuf dibagi menjadi dua mazhab, yakni tasawuf akhlaki/amali (berkembang di dunia sunni) dan tasawuf falsafi (berkembang di dunia syiah). Mayoritas sufi dari kalangan sunni menegaskan bahwa al-maqam tertinggi yang dapat dicapai oleh seorang sufi hanyalah tingkatan rida (al-ridha). Sejumlah sufi dari aliran tasawuf falsafi memiliki interpretasi berbeda dari mazhab tasawuf yang berhaluan sunni.
Daftar Pustaka :
1. Ja’far. 2016. Gerbang Tasawuf. Medan: Perdana Publishing.
2. Nata, Abuddin. 2013. Akhlak Tasawuf dan Karakter Mulia. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
3. Nasution, Ahmad Bangun, dkk. 2013. Akhlak Tasawuf Pengenalan dan Pengaplikasiannya. Jakarta: Raja Grafindo Persada.